“Salah kalian sendiri, hai
manusia-manusia dari belahan modern! Kalian yang malas. Jangankan naik
tangga, turun tangga pun minta gendong mesin penghisap cairan dan
bongkah energi isi bumi. Kalian yang hamburkan arang ke udara! Kenapa
suruh kami jaga hutan demi panjang nafas kalian?! Tak tahu sopan, tak
ngerti santun! Minta tolong pakai perintah! Enak benar!”
Begitulah saya menerjemahan bebas dari
apa yang diucap Franco Viteri, tokoh masyarakat adat Kichwa, Ekuador.
Jangan-jangan kurang kasar. Ha-ha! Orang itu bicara dalam video kerjaan kawan-kawan Gekko Studio. Malam di sebuah kedai bernama T di kota bernama B, saya ditontonkan di layar di komputer jinjing milik Een, seorang kawan.
Video alat suluh tentang perubahan iklim
dan pemanasan global itu penuh pendapat petani, praktisi,
pelingkunganhidup, dan masyarakat adat. Kaya bahasan kerusakan
lingkungan dan “pembangunan”, bencana alam-kemanusiaan dan
“pembangunan”, pemiskinan dan “pembangunan”. Juga sebuah skema, cermin
industri Utara elak hentikan kerakusan, lalu minta hutan Selatan dijaga.
Sungguh keji! Kejiwaan! Ha ha!
Saya bayangkan maksud isi kepala Viteri.
Mungkin bersilang mungkin sependapat. Kerusakan lingkungan terjadi
karena satu hal saja. Yakni, ada subyek perusak dan obyek yang dirusak!
Sang subyek ya jelas. Si obyek ya banyak. Bicara lingkungan sebagai
obyek, bicara ekosistem. Tak hanya pohon, sungai, atau beruk. Di dalam
itu pula manusia.
Maka pilihan sederhana agar tak lagi ada
pengrusakan lingkungan adalah… bersama merusak. Utara disilakan
membangun neraka dengan membakar sebanyak yang ia bisa, dan Selatan
lekas babat seluas hutan tersisa. Mati bersama jadi bukti bersaudara
sebagaimana dengung umat pengaku sebumi.
Bumi tak perlu dijaga. Flash Gordon
sudah mati! Sang pahlawan fiksi ini disusul-susuli korban genosida dan
kamuflase hijau. Yang tersisa sebagian kecil tapi terkuat adalah
bisul-bisul peradaban. Mereka yang mungkin sebaiknya tak semestinya ada
tapi masih bisa pongah berseru, “tanamlah pohon! Demi bumi!”
Tanam pohon demi bumi? Omong kosong terbesar abad ini.
Apa susahnya tanam pohon?! Tak terhitung koar tanam pohon dilaporkan dimana-mana? Berapa yang tumbuh dan sembuhkan hutan?!
Apa gunanya tanam pohon?! Bila yang
lakukan adalah sebuah perusahaan yang kasih bantuan kitab suci dengan
koar menghijaukan Sumatra tapi terus-menerus kedapatan merekalah perusak
hutan Sumatra? Apa gunanya bilang cinta bumi dalam motif kamuflase
hijau? Ha ha!
Boleh danaukan gunung-gunung di Papua
dan Sulawesi tapi bantu bibit pohon ke taman di Jakarta, contohnya.
Gurunkan saja rimba di Kalimantan asal peduli sampah Ciliwung, misalnya.
Kok, macam semangat boleh bebas-senggama asal pakai kondom.
Bank Dunia bisa dong tetap hisap negeri Selatan dengan riba mematikan
asalkan pakai merek syari’ah? Ha ha!
Jadi, jangan tanam pohon?!
Bukan begitu! Tanam ya tanam saja. Tak
usah pakai racau peduli bumi. Tanam untuk selamatkan diri sendiri.
Masing-masing dari kita perlu perahu sendiri. Paling tidak sekoci. Nuh
tak bakal datang lagi. Toh, bila pun ada… ketika bah yang agung
datang, tak bakal cukup satu bahtera sang nabi. Andalkan satu perahu
pastilah terlambat untuk jemput sepasang penguin dan beruang kutub di
Utara, lalu jemput lagi sepasang panda di China, kemudian selamatkan
sepasang beruk semuni dari lembah dempo. Bikin lelah Sang Nabi!
Tanam ya tanam terus! Untuk selamatkan
kampung masing-masing, pekarangan masing-masing, kompleks perumahan
masing-masing. Untuk hisap karbon yang kita lepas sendiri, demi oksigen
yang kita hisap sendiri. Untuk tangkap limpah air di kampung sendiri,
demi lindap dan sejuk angin ketuk jendela kamar masing-masing.
Tanam saja, hadiahi diri sendiri. Entah
padi yang kelak jadi tinja kita sendiri. Entah pohon bebuah masam yang
kelak berbuah perangsang tetes liur kita sendiri. Untuk sesayur yang
nanti menghias makan malam keluarga . Entah bunga penyedap bau balkon
masing-masing.
Selamat tanggal 10 Oktober 2010. Ini bukan
penghijauan, sekadar memenuhi kebutuhan diri. Kebetulan saja hari ini
ada gerakan ramai-ramai “One People Ten Trees“! Sejujurnya, ini adalah upaya untuk menghadiahi diri sendiri.
[SyamAR; Cijapun, 10 Oktober 2010]
Lihat saja disini http://dusunlaman.net/dusunlaman/organicfarming/
Lihat saja disini http://dusunlaman.net/dusunlaman/organicfarming/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar