Sabtu, 25 Agustus 2012

Persetan Selamatkan Bumi! Tanam, Hadiahi Diri Sendiri!



logo *one people teen tree* di bibit manggis yang saya tanam. foto; syam
“Salah kalian sendiri, hai manusia-manusia dari belahan modern! Kalian yang malas. Jangankan naik tangga, turun tangga pun minta gendong mesin penghisap cairan dan bongkah energi isi bumi. Kalian yang hamburkan arang ke udara! Kenapa suruh kami jaga hutan demi panjang nafas kalian?! Tak tahu sopan, tak ngerti santun! Minta tolong pakai perintah! Enak benar!”
Begitulah saya menerjemahan bebas dari apa yang diucap Franco Viteri, tokoh masyarakat adat Kichwa, Ekuador. Jangan-jangan kurang kasar. Ha-ha! Orang itu bicara dalam video kerjaan kawan-kawan Gekko Studio. Malam di sebuah kedai bernama T di kota bernama B, saya ditontonkan di layar di komputer jinjing milik Een, seorang kawan.
Video alat suluh tentang perubahan iklim dan pemanasan global itu penuh pendapat petani, praktisi, pelingkunganhidup, dan masyarakat adat. Kaya bahasan kerusakan lingkungan dan “pembangunan”, bencana alam-kemanusiaan dan “pembangunan”, pemiskinan dan “pembangunan”. Juga sebuah skema, cermin industri Utara elak hentikan kerakusan, lalu minta hutan Selatan dijaga.
Sungguh keji! Kejiwaan! Ha ha!
Saya bayangkan maksud isi kepala Viteri. Mungkin bersilang mungkin sependapat. Kerusakan lingkungan terjadi karena satu hal saja. Yakni, ada subyek perusak dan obyek yang dirusak! Sang subyek ya jelas. Si obyek ya banyak. Bicara lingkungan sebagai obyek, bicara ekosistem. Tak hanya pohon, sungai, atau beruk. Di dalam itu pula manusia.
Maka pilihan sederhana agar tak lagi ada pengrusakan lingkungan adalah… bersama merusak. Utara disilakan membangun neraka dengan membakar sebanyak yang ia bisa, dan Selatan lekas babat seluas hutan tersisa. Mati bersama jadi bukti bersaudara sebagaimana dengung umat pengaku sebumi.
Bumi tak perlu dijaga. Flash Gordon sudah mati! Sang pahlawan fiksi ini disusul-susuli korban genosida dan kamuflase hijau. Yang tersisa sebagian kecil tapi terkuat adalah bisul-bisul peradaban. Mereka yang mungkin sebaiknya tak semestinya ada tapi masih bisa pongah berseru, “tanamlah pohon! Demi bumi!”
Tanam pohon demi bumi? Omong kosong terbesar abad ini.
Apa susahnya tanam pohon?! Tak terhitung koar tanam pohon dilaporkan dimana-mana? Berapa yang tumbuh dan sembuhkan hutan?!
Apa gunanya tanam pohon?! Bila yang lakukan adalah sebuah perusahaan yang kasih bantuan kitab suci dengan koar menghijaukan Sumatra tapi terus-menerus kedapatan merekalah perusak hutan Sumatra? Apa gunanya bilang cinta bumi dalam motif kamuflase hijau? Ha ha!
Boleh danaukan gunung-gunung di Papua dan Sulawesi tapi bantu bibit pohon ke taman di Jakarta, contohnya. Gurunkan saja rimba di Kalimantan asal peduli sampah Ciliwung, misalnya. Kok, macam semangat boleh bebas-senggama asal pakai kondom. Bank Dunia bisa dong tetap hisap negeri Selatan dengan riba mematikan asalkan pakai merek syari’ah? Ha ha!
Jadi, jangan tanam pohon?!
Bukan begitu! Tanam ya tanam saja. Tak usah pakai racau peduli bumi. Tanam untuk selamatkan diri sendiri. Masing-masing dari kita perlu perahu sendiri. Paling tidak sekoci. Nuh tak bakal datang lagi. Toh, bila pun ada… ketika bah yang agung datang, tak bakal cukup satu bahtera sang nabi. Andalkan satu perahu pastilah terlambat untuk jemput sepasang penguin dan beruang kutub di Utara, lalu jemput lagi sepasang panda di China, kemudian selamatkan sepasang beruk semuni dari lembah dempo. Bikin lelah Sang Nabi!
koleksi pribadi)
tanam ya tanam saja (foto: koleksi pribadi)
Tanam ya tanam terus! Untuk selamatkan kampung masing-masing, pekarangan masing-masing, kompleks perumahan masing-masing. Untuk hisap karbon yang kita lepas sendiri, demi oksigen yang kita hisap sendiri. Untuk tangkap limpah air di kampung sendiri, demi lindap dan sejuk angin ketuk jendela kamar masing-masing.
Tanam saja, hadiahi diri sendiri. Entah padi yang kelak jadi tinja kita sendiri. Entah pohon bebuah masam yang kelak berbuah perangsang tetes liur kita sendiri. Untuk sesayur yang nanti menghias makan malam keluarga . Entah bunga penyedap bau balkon masing-masing.
Selamat tanggal 10 Oktober 2010. Ini bukan penghijauan, sekadar memenuhi kebutuhan diri. Kebetulan saja hari ini ada gerakan ramai-ramai “One People Ten Trees! Sejujurnya, ini adalah upaya untuk menghadiahi diri sendiri.
[SyamAR; Cijapun, 10 Oktober 2010]

Lihat saja disini  http://dusunlaman.net/dusunlaman/organicfarming/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar