Otak saya pernah serasa perlu
direbonding gara-gara permintaan sederhana. Carikan dalil agama tentang
pertanian ramah lingkungan, pertanian alami, organik, organis, atau
apalah istilahnya! Mana saya tahu. Tahu apa saya tentang agama?!
Seandainya yang ditanya cuma tentang
pertanian, saya bisa berlagak “PPL”*. Pura-Pura Lihai. Tapi karena yang
ditanya adalah soal agama, saya terpaksa “P3N”**. Pokoknya Pinter-Pinter
Ngecap.
Karena yang tanya bapak kami, saya bisa
berkelakar dengan jurus “P3N”. “Agama ramah lingkungan setahu saya ada.
Yang menyembah pohon, he he… Kan, pastinya melindungi pohon-pohon.
Untung bapak kami orang sabar. Saya urung kena pentung. Kalo Bapak saya, yang di Prabumulih, dia pasti setuju, soalnya beliau aliran ke-sumatren. Ha ha.
Belum selesai pencarian, ada yang datang ke pondok. Kawan-kawan tani. Di antaranya ada Pak Mualim,
sebutan untuk pemuka agama di kampung-kampung sunda. Pak Kaum kalau di
masyarakat Jawa (baca; di masyarakat Jawa. Sesuai masukan Pak Markus
Budiraharjo. Trim’s masukannya) . Bapak kami tanya ke beliau.
Sementara Pak Mualim berpikir, saya sembarang sentil. “Ada, kok. Kalo tak salah, bunyinya… gak percaya pertanian alami, gak percaya tuhan. He he.”
Meski kali itu tak kena pentung, saya kena sepet si bapak. “Halah! Hadist ngarang, tuh. Hadist palsu.”
Kadung berlagak “P3N”, mesti bisa ngeles.
Maksud saya, “lihatlah ke are (istilah lokal untuk sebut satu kawasan,
bisa diartikan sementara sebagai kawasan ulayat). Hutan di are bagus, tuh! Kan, tidak pernah dipupuk? Bukan begitu, Pak Mualim?” Pak Mualim iya-iya saja.
Merasa dapat angin, saya teruskan bual tentang apa yang saya temukan ketika turun jauh ke are. “Pohon burahol (Stelechocorpus burahol)
yang kalau di Jawa disebut buah kepel, saya lihat berbuah. Pupuknya
cuman kalo ada babi lewat trus buang hajat, ditambah tai burung atau
lutung, dan daun-daun jatuh yang membusuk.”
Bapak kami, Pak Mualim, dan yang lain nyengir.
Saya teruskan lagi bual dengan musim banjir durian Medan, panen raya
duku Palembang yang kebanyakan berasal dari hutan buah tak
terpupuk-sengaja. Bukan dari kebun modern.
Sepulang Pak Mualim dan yang lain, bapak kami bilang. “Carikan hadis yang benar, ya. Kalo kamu ditanya, kamu bisa ngawur. Lha, kalo bapak yang ditanya, mana bisa nyaman jawab sembarang.”
Siyaaap, Commandate! Dengan pikiran keriting saya googling. Dapat! Google dilawan! Segera saya laporkan segepok tulisan hasil Ctrl + C dan Ctrl V. Salah satunya…
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berkebun dan bercocok tanam, kemudian hasilnya dikonsumsi hewan, burung dan manusia, maka ia mendapatkan ampunan di setiap buah yang dimakan dari hasil perkebunannya.“ (HR.Ahmad).
Bapak kami senang. Saya apalagi, ha ha! Karena bisa bilang ke Bapak, “Sesuai hadist itu, berarti… saya bakal masuk surga, dong!”
Saya senang. Bukan karena perihal surga. Tapi karena berhasil membuat otak kembali lurus. Sayangnya, sebentar. Ajajajaja!
[SyamAR; Cijapun 31 Maret 2010]
Catatan:
* Maaf kepada sahabat-sahabat PPL yang banyak bertukar pengalaman, tapi PPL (Pura-Pura Lihai) di artikel asal tulis kali ini kebetulan memang mirip dengan Petugas Penyuluh Lapangan yang biasanya merupakan pegawai dari dinas pertanian-kehutanan.
** Kebetulan juga P3N mirip pula dengan Petugas Pembantu Pencatatan Nikah yang agaknya berada di bawah lingkungan departemen agama.
* Maaf kepada sahabat-sahabat PPL yang banyak bertukar pengalaman, tapi PPL (Pura-Pura Lihai) di artikel asal tulis kali ini kebetulan memang mirip dengan Petugas Penyuluh Lapangan yang biasanya merupakan pegawai dari dinas pertanian-kehutanan.
** Kebetulan juga P3N mirip pula dengan Petugas Pembantu Pencatatan Nikah yang agaknya berada di bawah lingkungan departemen agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar