Sabtu, 25 Agustus 2012

Hadist Palsu dan Pertanian Alami

pakai topi berpikir pura-pura googling, padahal ngeblog, ha ha! foto; hendri agrim
Otak saya pernah serasa perlu direbonding gara-gara permintaan sederhana. Carikan dalil agama tentang pertanian ramah lingkungan, pertanian alami, organik, organis, atau apalah istilahnya! Mana saya tahu. Tahu apa saya tentang agama?!
Seandainya yang ditanya cuma tentang pertanian, saya bisa berlagak “PPL”*. Pura-Pura Lihai. Tapi karena yang ditanya adalah soal agama, saya terpaksa “P3N”**. Pokoknya Pinter-Pinter Ngecap.
Karena yang tanya bapak kami, saya bisa berkelakar dengan jurus “P3N”. “Agama ramah lingkungan setahu saya ada. Yang menyembah pohon, he heKan, pastinya melindungi pohon-pohon.
Untung bapak kami orang sabar. Saya urung kena pentung. Kalo Bapak saya, yang di Prabumulih, dia pasti setuju, soalnya beliau aliran ke-sumatren. Ha ha.
Belum selesai pencarian, ada yang datang ke pondok. Kawan-kawan tani. Di antaranya ada Pak Mualim, sebutan untuk pemuka agama di kampung-kampung sunda. Pak Kaum kalau di masyarakat Jawa (baca; di masyarakat Jawa. Sesuai masukan Pak Markus Budiraharjo. Trim’s masukannya) . Bapak kami tanya ke beliau.
Sementara Pak Mualim berpikir, saya sembarang sentil. “Ada, kok. Kalo tak salah, bunyinya… gak percaya pertanian alami, gak percaya tuhan. He he.”
Meski kali itu tak kena pentung, saya kena sepet si bapak. “Halah! Hadist ngarang, tuh. Hadist palsu.”
Kadung berlagak “P3N”, mesti  bisa ngeles. Maksud saya, “lihatlah ke are (istilah lokal untuk sebut satu kawasan, bisa diartikan sementara sebagai kawasan ulayat). Hutan di are bagus, tuh! Kan, tidak pernah dipupuk? Bukan begitu, Pak Mualim?” Pak Mualim iya-iya saja.
Merasa dapat angin, saya teruskan bual tentang apa yang saya temukan ketika turun jauh ke are. “Pohon burahol (Stelechocorpus burahol) yang kalau di Jawa disebut buah kepel, saya lihat berbuah. Pupuknya cuman kalo ada babi lewat trus buang hajat, ditambah tai burung atau lutung, dan daun-daun jatuh yang membusuk.”
Bapak kami, Pak Mualim, dan yang lain nyengir. Saya teruskan lagi bual dengan musim banjir durian Medan, panen raya duku Palembang yang kebanyakan berasal dari hutan buah tak terpupuk-sengaja. Bukan dari kebun modern.
Sepulang Pak Mualim dan yang lain, bapak kami bilang. “Carikan hadis yang benar, ya. Kalo kamu ditanya, kamu bisa ngawur. Lha, kalo bapak yang ditanya, mana bisa nyaman jawab sembarang.”
Siyaaap, Commandate! Dengan pikiran keriting saya googling. Dapat! Google dilawan! Segera saya laporkan segepok tulisan hasil Ctrl + C dan Ctrl V. Salah satunya…
Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang berkebun dan bercocok tanam, kemudian hasilnya dikonsumsi hewan, burung dan manusia, maka ia mendapatkan ampunan di setiap buah yang dimakan dari hasil perkebunannya.“ (HR.Ahmad).
Bapak kami senang. Saya apalagi, ha ha! Karena bisa bilang ke Bapak, “Sesuai hadist itu, berarti… saya bakal masuk surga, dong!”
Saya senang. Bukan karena perihal surga. Tapi karena berhasil membuat otak kembali lurus. Sayangnya, sebentar. Ajajajaja!
[SyamAR; Cijapun 31 Maret 2010]
Catatan:
* Maaf kepada sahabat-sahabat PPL yang banyak bertukar pengalaman, tapi PPL (Pura-Pura Lihai) di artikel asal tulis kali ini kebetulan memang mirip dengan Petugas Penyuluh Lapangan yang biasanya merupakan pegawai dari dinas pertanian-kehutanan.
** Kebetulan juga P3N mirip pula dengan Petugas Pembantu Pencatatan Nikah yang agaknya berada di bawah lingkungan departemen agama.

Persetan Selamatkan Bumi! Tanam, Hadiahi Diri Sendiri!



logo *one people teen tree* di bibit manggis yang saya tanam. foto; syam
“Salah kalian sendiri, hai manusia-manusia dari belahan modern! Kalian yang malas. Jangankan naik tangga, turun tangga pun minta gendong mesin penghisap cairan dan bongkah energi isi bumi. Kalian yang hamburkan arang ke udara! Kenapa suruh kami jaga hutan demi panjang nafas kalian?! Tak tahu sopan, tak ngerti santun! Minta tolong pakai perintah! Enak benar!”
Begitulah saya menerjemahan bebas dari apa yang diucap Franco Viteri, tokoh masyarakat adat Kichwa, Ekuador. Jangan-jangan kurang kasar. Ha-ha! Orang itu bicara dalam video kerjaan kawan-kawan Gekko Studio. Malam di sebuah kedai bernama T di kota bernama B, saya ditontonkan di layar di komputer jinjing milik Een, seorang kawan.
Video alat suluh tentang perubahan iklim dan pemanasan global itu penuh pendapat petani, praktisi, pelingkunganhidup, dan masyarakat adat. Kaya bahasan kerusakan lingkungan dan “pembangunan”, bencana alam-kemanusiaan dan “pembangunan”, pemiskinan dan “pembangunan”. Juga sebuah skema, cermin industri Utara elak hentikan kerakusan, lalu minta hutan Selatan dijaga.
Sungguh keji! Kejiwaan! Ha ha!
Saya bayangkan maksud isi kepala Viteri. Mungkin bersilang mungkin sependapat. Kerusakan lingkungan terjadi karena satu hal saja. Yakni, ada subyek perusak dan obyek yang dirusak! Sang subyek ya jelas. Si obyek ya banyak. Bicara lingkungan sebagai obyek, bicara ekosistem. Tak hanya pohon, sungai, atau beruk. Di dalam itu pula manusia.
Maka pilihan sederhana agar tak lagi ada pengrusakan lingkungan adalah… bersama merusak. Utara disilakan membangun neraka dengan membakar sebanyak yang ia bisa, dan Selatan lekas babat seluas hutan tersisa. Mati bersama jadi bukti bersaudara sebagaimana dengung umat pengaku sebumi.
Bumi tak perlu dijaga. Flash Gordon sudah mati! Sang pahlawan fiksi ini disusul-susuli korban genosida dan kamuflase hijau. Yang tersisa sebagian kecil tapi terkuat adalah bisul-bisul peradaban. Mereka yang mungkin sebaiknya tak semestinya ada tapi masih bisa pongah berseru, “tanamlah pohon! Demi bumi!”
Tanam pohon demi bumi? Omong kosong terbesar abad ini.
Apa susahnya tanam pohon?! Tak terhitung koar tanam pohon dilaporkan dimana-mana? Berapa yang tumbuh dan sembuhkan hutan?!
Apa gunanya tanam pohon?! Bila yang lakukan adalah sebuah perusahaan yang kasih bantuan kitab suci dengan koar menghijaukan Sumatra tapi terus-menerus kedapatan merekalah perusak hutan Sumatra? Apa gunanya bilang cinta bumi dalam motif kamuflase hijau? Ha ha!
Boleh danaukan gunung-gunung di Papua dan Sulawesi tapi bantu bibit pohon ke taman di Jakarta, contohnya. Gurunkan saja rimba di Kalimantan asal peduli sampah Ciliwung, misalnya. Kok, macam semangat boleh bebas-senggama asal pakai kondom. Bank Dunia bisa dong tetap hisap negeri Selatan dengan riba mematikan asalkan pakai merek syari’ah? Ha ha!
Jadi, jangan tanam pohon?!
Bukan begitu! Tanam ya tanam saja. Tak usah pakai racau peduli bumi. Tanam untuk selamatkan diri sendiri. Masing-masing dari kita perlu perahu sendiri. Paling tidak sekoci. Nuh tak bakal datang lagi. Toh, bila pun ada… ketika bah yang agung datang, tak bakal cukup satu bahtera sang nabi. Andalkan satu perahu pastilah terlambat untuk jemput sepasang penguin dan beruang kutub di Utara, lalu jemput lagi sepasang panda di China, kemudian selamatkan sepasang beruk semuni dari lembah dempo. Bikin lelah Sang Nabi!
koleksi pribadi)
tanam ya tanam saja (foto: koleksi pribadi)
Tanam ya tanam terus! Untuk selamatkan kampung masing-masing, pekarangan masing-masing, kompleks perumahan masing-masing. Untuk hisap karbon yang kita lepas sendiri, demi oksigen yang kita hisap sendiri. Untuk tangkap limpah air di kampung sendiri, demi lindap dan sejuk angin ketuk jendela kamar masing-masing.
Tanam saja, hadiahi diri sendiri. Entah padi yang kelak jadi tinja kita sendiri. Entah pohon bebuah masam yang kelak berbuah perangsang tetes liur kita sendiri. Untuk sesayur yang nanti menghias makan malam keluarga . Entah bunga penyedap bau balkon masing-masing.
Selamat tanggal 10 Oktober 2010. Ini bukan penghijauan, sekadar memenuhi kebutuhan diri. Kebetulan saja hari ini ada gerakan ramai-ramai “One People Ten Trees! Sejujurnya, ini adalah upaya untuk menghadiahi diri sendiri.
[SyamAR; Cijapun, 10 Oktober 2010]

Lihat saja disini  http://dusunlaman.net/dusunlaman/organicfarming/